Bagi sebagian orang Indonesia, ketika mendengar nama Oidipus mungkin sudah kenal siapa itu Oidipus. Tapi tidak apa apa juga sih kalau tidak tahu. Wajar kalau tidak tahu, salah satu tokoh mitilogi Yunani ini memang jarang diangkat (udah pernah difilmkan apa belum ya??? Ga tau juga sih. Hehehe......) ke layar lebar ketimbang Herkules, Teseus, Achilles ataupun Perseus yang sudah lebih sering menjadi tokoh utama sebuah film.
Oidipus adalah seorang pahlawan dalam kisah mitologi Yunani. Ketika kita menonton atau membaca kisah Oidipus, mungkin akan langsung mengingatkan kita pada suatu kisah yang rasanya sudah sangat familiar dengan kita. Ya, kisah itu adalah kisah Oidipus. Kisah yang pernah dipertunjukan oleh WS Rendra dalam penampilan teaternya yang berjudul “Oidipus Sang Raja”, memang mirip dengan kisah Sangkuriang, kisah dongeng daerah Jawa Barat yang sering kita dengar dan baca di masa kecil. Tapi kenapa ya Oidipus lebih terkenal dari pada Sangkuriang? Kenapa naskah drama karya Sophokles ini selalu dipelajari bagi mahasiswa pemula di kelas teater? Sebenarnya kelebihan apa yang dimiliki Oidipus sampai bisa semua orang di dunia mengetahui kisahnya?

Nah, sebelum kita menjawab pertanyaan ini, lebih baik saya memberikan sinopsis dari cerita Oidipus biar baca artikelnya lebih nyambung nih. Oidipus adalah anak dari seorang raja di Corintha yang bernama raja Laius dan ratu Jocasta. Ketika Oidipus dilahirkan, seorang orakel (ahli nujum Yunani) menujumkan bahwa ketika besar nanti Oidipus akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Takut tujuman ini terjadi (masyarakat Yunani saat itu, percaya bahwa tujuman akan selalu terjadi, seperti takdir yang tidak bisa diubah) dan menghindari tujuman itu terjadi, raja Laius menyuruh salah satu pengawalnya untuk membunuh anakknya tanpa ketahuan seorang pun di istana itu. Pengawal itu pun pergi dari kerajaan untuk membunuh anak itu tetapi dia tidak tega membunuhnya. Pada akhirnya, pengawal itu bertemu dengan seorang pengembara dari Thebes dan menitipkan anak itu kepada si pengembara untuk membawa anak itu pergi jauh terutama dari Corintha. Pengembara itupun membawa anak kecil itu, yang diberi nama Oidipus, ke Thebes. Ternyata pengembara itu adalah pengawal istana kerajaan Thebes. Anak itu diberikan kepada raja Thebes karena sang raja telah lama mendambakan seorang anak namun sang ratu tak kunjung hamil. Raja Thebes pun dengan senang hati menerima anak itu dan membesarkannya sebagai anaknya sendiri.
Ketika Oidipus telah remaja, dia mengetahui tujuman yang mengatakan bahwa dia akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Setelah mengetahui hal tersebut, Oidipus merasa ketakutan akan terjadinya tujuman itu. Ia pun pergi dari Thebes agar tujuman itu tak terjadi. Di tengah jalan dia bertemu segerombolan orang yang mengganggunya dan akhirnya dia berkelahi dengan gerombolan itu dan membuhuh seorang diantaranya. Ketika sampai ke Corintha, dia menjadi pahlawan yang dielu-elukan rakyat karena aksi kepahlawanan yang telah menyelamatkan negeri itu. Oidipus pun menjadi raja dan menikahi Jocasta, ratu Corintha yang ditinggal mati suaminya. Suatu ketika ada suatu masalah yang membongkar siapa yang membunuh raja Laius. Dari peristiwa inilah Oidipus tahu bahwa dia telah membunuh raja Laius, yang merupakan ayah kandungnya saat dalam perjalanannya menuju Thebes dan istri yang dinikahinya adalah ibu kandungnya sendiri. Mengetahui fakta itu, Jocasta bunuh diri sedangkan Oidipus membutakan matanya untuk menghukum dirinya sendiri karena telah melakukan hal yang keji. Dia pun mengudurkan diri sebagi raja Thebes dan mengasingkan dirinya ke hutan untuk menghukum dirinya. Di satu sisi ketika ini merupakan hukuman bagi dirinya juga, karena ia telah berjanji saat pencarian pembunuh raja Laius bahwa dia akan membunuh pembunuh raja Laius dan ternyata itu adalah dirinya sendiri.
Nah, itu adalah sinopsis dari kisah Oidipus. Jelas kan kisah ini memiliki kemiripan dengan cerita Sangkuriang. Lalu kenapa kisah Oidipus ini jauh lebih terkenal dibanding Sangkuriang? Hal ini sempat menjadi pembahasan di kelas teater saya (saya mengambil kelas teater untuk mata kuliah seni). Di kelas sang dosen memaparkan jawaban dari pertanyaan ini karena tak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang tepat ketika dosen bertanya tentang hal ini di kelas. Beliau bilang bahwa nilai yang terkandung dalam kisah Oidipus dan Sangkuriang bagaikan langit dan bumi.
Cerita Oidipus ini memiliki nilai yang sangat banyak. Diantaranya, dalam cerita ini menunjukan bahwa Oidipus adalah raja yang bijaksana dan mampu memegang ucapannya. Dia adalah raja yang memikirkan rakyatnya dan sepenuhnya berpihak kepada rakyatnya (baca cerita Oidipus selengkapnya untuk mengetahui dengan jelas nilai ini). Dia bahkan berani menghukum dirinya sendiri ketika ia tahu bahwa ialah yang telah membunuh ayahnya dan dia juga menikahi ibunya, walaupun hal itu dilakukannya karena ketidaktahuannya. Dalam mencari tahu siapa pembunuh Laius yang dalam prosesnya dia berkata bahwa dia akan membunuh pembunuh Laius apabila terungkap nanti. Ternyata dia lah yang membunuhnya, lalu dia menghukum dirinya dengan membutakan matanya. Ini menunjukan sikap nya sebagai seorang pemimpin yang teguh dengan ucapannya (ya walaupun dalam cerita ini dia tidak bunuh diri tapi paling tidak dia berani bertanggung jawab). Andai pemimpin di Indonesia seperti ini, pasti Indonesia akan menjadi negara yang besar tanpa KKN. Hehe...
Di sisi lain, cerita Sangkuriang banyak mengandung hal yang tidak baik. Yang paling banyak terlihat adalah kelicikan Sangkuriang dalam meraih apa yang diinginkannya. Mulai dari ketika Sangkuriang disuruh ibunya untuk berburu mencari seekor kijang (kalo ga salah, agak lupa ceritanya) di hutan untuk dimakan. Ketika itu sangkuriang pergi bersama si Tumang, ayahnya yang berwujud anjing, dan gagal untuk memburu kijang. Karena putus asa, ia mengakali si Tumang untuk dibunuhnya dan diambil hatinya untuk dibawa kepada ibunya. Sangkuriang membohongi ibunya bahwa itu adalah hati kijang padahal sebenarnya hati si Tumang. Begitu juga ketika ia membuat candi untuk menikahi ibunya, ibunya pun juga mengakali agar Sangkuriang gagal.
Dari perbandingan ini, jelas bahwa Sangkuriang sangat sulit untuk mendunia. Nilai yang dikandung antara Sangkuriang dan Oidipus bagaikan langit dan bumi. Oidipus bisa mendunia bahkan naskah drama nya dipelajari di kelas teater semua negara dikarenakan nilai yang terkandung didalamnya. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Oidipus. Ini lah faktor yang bisa membuat Oidipus bisa terkenal.
Ini hanya pendapat dari dosen teater ku, dan menurutku ada benarnya juga. Kalau kalian punya pendapat sendiri, tidak masalah.... :-)